BAMBU BUNTU

Sabtu, 10 November 2012

SATU RUMAH SATU CAHAYA


SATU RUMAH SATU CAHAYA
Mengapa Ramadhan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an ? Pertama, karena pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan, sebagaiman firman Allah SWT 

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dlamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang batil),”(QS. AlBaqarah :185).

            Kedua, di bulan inilah Rasulullah Saw rutin melakukan tilawah dan mengkhatamkan Al-Qur’an dengan bimbingan malaikat Jibril.
            Jika tahun ini kita masih sibuk dengan kegiatan yang jauh dari Al-Qur’an,maka seyogyanya kita malu dan mengintrospeksi diri untuk tahun ke depannya. Ulama shaleh saja rela meninggalkan banyak kegiatan demi fokus memperbanyak interaksinya dengannya.
            Semua rumah tangga ingin mendapatkan banyak kebaikan dan terhindar dari banyak masalah. Rasulullah memberikan resepnya,”perbanyaklah oleh kalian membaca Al-Qur’an di rumah kalian, karena sesungguhnya rumah yang di dalamnya tidak dibacakan Al-Qur’an akan sedikit kebaikan dan kesempitan bagi penghuninya.”(HR tabrani).
            Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah cahaya. Melahirkan seorang penghafal Al-Qur’an di sebuah rumah berarti memenuhi rumah itu dengan sebuah cahaya, di samping dapat memberi syafaat kepada sepuluh anggota keluarganya pada saat yaumul hisab.
            Sebagai tempat penyemaian karakter anak yang tangguh, rumah mestinya menjadi tempat paling ideal untuk mendidik seorang hafiz, terutama untuk anak usia 0-12 tahun.
            Menurut Uztadz Bachtiar Natsir,Lc, Pemimpin Arrahman Al-Qur’an Learning Center, tak mesti orang tua hafal Qur’an terlebih dahulu, tapi kalau bisa dilakukan akan lebih baik lagi. “Idealnya dengan ibu, tapi kalau tak sanggup, ibu bisa memanggil asisten di rumah atau ustazah yang bisa mendampingi anak-anak secara konsisten.”
            Selepas usia 12 tahun, orangtua juga mempunyai alternatif, yaitu memasukkan anak ke pesantren Al-Qur’an. Namun pilihan ini sering kali diikuti dengan kecemasan orang tua tidak bisa memberi kasih sayang optimal kepada anak. Padahal justru kasih sayang Allah dan malaikat lebih hebat daripada kasih sayang orangtua.
            Masalah pendanaan, apabila untuk les privat matematika dan bahasa Inggris saja kita rela membayar mahal, mengapa kita enggan membayar seorang guru menghafal Al-Qur’an dengan layak? Padahal keutamaan Al-qur’an jauh lebih tinggi. Memang uang bukan ukuran, namun apa yang kita keluarkan bagi seorang guru Al-qur’an tentu lebih berpahala dan bermanfaat.
            Semua orang idealnya mampu mempelajari, menghafal dan memahami kitab Al-qur’an, dimulai dari kalangan muda hingga kalangan tua. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam mempelajari Al-qur’an ialah jangan sampai seorang penghafal Al-qur’an meninggalkan kewajiban-kewajiban lain , seperti jihad atau mencari nafkah.
             Menghafal dan mempelajari Al-qur’an hendaknya jangan secara texbook saja, namun dapat mengamalkannya dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Menghafal  Al-qur’an hendaknya dibarengi dengan perbaikan akhlak. Jadikanlah  kitab suci itu sebagai pedoman dan petunjuk jalan dalam mengarungi kehidupan ini. Kejarlah akhirat, maka dunia akan mengikutimu, Kejarlah dunia maka akhirat akan meninggalkanmu. Jadilah hafiz dan hafizal yang bermoral Al-qur’an. Bukankah seperti itu profil seorang khalifah?
                    






Tidak ada komentar: