BAMBU BUNTU

Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Februari 2013

cerita Panglima Kawal dan Si Jangoi : Asal Mula Pulau Si Jangoi


Panglima Kawal dan Si Jangoi : Asal Mula Pulau Si Jangoi

          Pada zaman dahulu, Negeri Riau sangat makmur dengan bandar-bandar yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai negeri. Negeri itu mempunyai hulubalang-hulubalang yang berani dan gagah perkasa. Selain itu, juga memiliki panglima yang sangat sakti, Panglima Kawal namanya.
Kemakmuran dan kesejahteraan Ne­geri Riau sangat terkenal. Banyak sudah lanun yang ber­usaha untuk menguasai negeri itu. Namun, berkat ketangkasan Pang­lima Kawal dan para hulubalangnya, negeri Riau selalu dapat diselamatkan.
      Pada suatu hari, pelabuhan Riau begitu ramai dengan pedagang yang baru tiba dari negeri-negeri jauh. Para  kuli sibuk mengangkat barang dagangan yang diturunkan dari kapal. Di antara kesibukan tersebut, tiba-tiba terdengar letusan meriam beberapa kali sebagai tanda datangnya satu kelompok kapal asing. Mendengar bunyi meriam tersebut, beberapa hulubalang segera merapatkan perahu mereka ke kapal-kapal pendatang tersebut.
“Selamat datang di negeri kami. Jika boleh kami tahu, dari mana dan apa maksud kedatangan Tuan-tuan?” tanya Ketua Hulubalang.
“Hei, bodoh! Saya adalah Jangoi, pemimpin perampok yang ditakuti di Kamboja, Serawak, Brunei, dan Sumatra!” jawab pemimpin rombongan itu dengan sombong. “Jika rakyat negeri ini ingin selamat, tunduklah padaku!” lanjutnya.
Ketua Hulubalang geram melihat ke­sombongan dan tingkah laku Jangoi dan anak buahnya yang kurang sopan. Tetapi dia masih mempunyai rasa santun.
“Tunggulah di sini, saya akan melapor­kan kedatangan kalian kepada panglima kami.”
Ketua Hulubalang segera meme­rintahkan anak buahnya untuk mengawasi orang-orang itu agar tidak membuat ke­kacauan, sementara dia menghadap Pang­lima Kawal. Mendengar laporan dari Ketua Hulubalang, Panglima Kawal segera me­merintahkan beberapa hulubalang un­tuk mempersiapkan pertahanan negeri.
“Siapkan perahu, aku ingin meng­adakan perundingan dengan orang asing itu!” perintah Panglima Kawal setelah per­tahanan negeri siap. Panglima Kawal adalah seorang panglima yang cinta damai. Dia memilih jalan perundingan sebelum terjadi peperangan. Dia tidak ingin rakyat sengsara akibat perang. Dengan diiringi beberapa hulubalang, Panglima Kawal menemui Jangoi di atas perahunya.
Walaupun sombong, saat bertemu dengan Panglima Kawal, si Jangoi ber­tingkah laku sopan. Dia segera meng­hidang­kan sirih lengkap dengan kapur dan pinangnya.
“Silakan, Tuan,” kata Jangoi mena­warkan sirih. Panglima Kawal tahu bahwa daun sirih yang dihidangkan adalah daun jelatang, maka dia menolaknya.
Melihat hal itu, tahulah Jangoi bah­wa Panglima Kawal tidak makan sirih, melainkan makan bakik. Maka, dikeluar­kannya tepak sirih yang berisi beberapa batang bakik. Jangoi sengaja menaruh paku beracun di dalam tepak sirih itu sebagai pengganti bakik.
Panglima Kawal segera mengambil bakik yang dihidangkan itu dan me­makannya.
“Mari, Tuan Jangoi,” Panglima Kawal menawari Jangoi untuk turut serta makan bakik itu.
Si Jangoi sangat heran. Dia terdiam beberapa saat. Melihat Jangoi heran, Panglima Kawal mengambil beberapa bakik dan dipatahkan menggunakan jari­nya. Jangoi terperangah.
“Bagi orang Riau, bakik seperti inilah pengganti sirih,” ujar Panglima Kawal tenang.
“Maafkan kami, Tuan. Kami menyerah kalah,” kata Jangoi. Dia mengakui tingginya ilmu orang-orang Riau dan membatalkan niatnya untuk menaklukkan Riau. 
Jangoi segera memerintahkan anak buahnya untuk meninggalkan Riau. Sebe­lum layar terkembang, Jangoi meng­ambil bakik seraya bersumpah, “Jika bakik ini tidak timbul, aku tidak akan datang ke tempat ini lagi.” Selesai berkata demikian, Jangoi melemparkan bakiknya ke laut lepas dan bakik itu tenggelam. Jangoi tidak memikirkan apa yang sudah diucapkan dan dilakukannya.
Waktu terus berlalu. Beberapa tahun berselang, Panglima Kawal meninggal dunia. Seluruh rakyat Riau bersedih kehilangan panglima terbaiknya. Kabar kematian Panglima Kawal segera tersebar dan terdengar oleh Jangoi. Jangoi amat gembira. Ia segera berangkat meng­guna­kan kapal besar untuk menaklukkan Riau.
“Inilah saatnya untuk menguasai ne­geri yang kaya itu. Kini tidak ada lagi yang akan menghalangi niatku,” gumam Jangoi. Menurutnya, jika Panglima Kawal telah meninggal, pastilah Negeri Riau menjadi lemah.
Sesampai kapal itu di perairan Riau, si Jangoi keluar ke anjungan. Saat kapal melepas jangkar di tempat dahulu Jangoi bersumpah, tiba-tiba dia terjatuh dan sakit. Para tabib yang didatangkan tak mampu menyembuhkannya. Jangoi segera ter­ingat sumpahnya dan menyesalinya. Sebe­lum meninggal, ia berpesan agar dikubur di tempat ia bersumpah. Beberapa saat kemudian, Jangoi meninggal dunia karena melanggar sumpahnya sendiri.
Anak buahnya kemudian menengge­lamkan mayat Jangoi di tempat ia ber­sumpah, yaitu di antara Pulau Penye­ngat dan Teluk Keriting. Beberapa saat setelah mayat Jangoi tenggelam, di tempat itu muncul sebuah pulau. Pulau itu kemudian diberi nama Pulau Si Jangoi atau Pulau Paku. Pulau itu masih ada dan dikenal hingga saat ini. 

Selasa, 29 Januari 2013

Kata Penghubung Konjungsi


Nama : Esty Yurika Sandova
Kelas : XII IPA 3
Kata Penghubung (Konjungsi)
A.    Pengertian Kata Penghubung
Kata penghubung disebut juga konjungsi atau kata sambung, yang berarti kata tugas yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa (Hasan Alwi, dkk., 2003: 296). Dalam pengertian lainnya, konjungsi adalah kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan yang lain dalam konstruksi hipotaktis, dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam konstruksi (Harimurti, 2007: 102).

B.    Jenis-jenis Kata Penghubung
Dilihat dari fungsinya dapat dibedakan dua macam kata penghubung sebagai berikut:
Ø  Kata penghubung yang menghubungkan kata, klausa, atau kalimat yang kedudukannya setara.
Kata penghubung ini dibedakan lagi menjadi kata penghubung yang:
·         Menggabungkan biasa, yaitu dan, dengan, serta.
Contoh : Ibu dan ayah pergi ke pasar
·          Menggabungkan memilih, yaitu atau.
·         Menggabungkan mempertentangkan, yaitu tetapi, namun, sedangkan, sebaliknya.
Contoh : Semua usaha sudah ia lakukan, tetapi hasil yang ia dapat belum memuaskan
·         menggabungkan membetulkan, yaitu melainkan, hanya.
Contoh : Ani bukan seorang pecandu masakan Padang, melainkan pecandu masakan Palembang.
·         menggabungkan menegaskan, yaitu bahwa, malah, lagipuula, apalagi, jangankan.
Contoh : Orang itu sangat sensitif. Ini tidak baik. Segala sesuatu yang berlebihan cenderung negatif. Lagi pula, sifat sensitif  tidak tepat untuknya karena ia seorang lelaki.
·         menggabungkan membatasi, yaitu kecuali, hanya.
·          menggabungkan mengurutkan, yaitu lalu, kemudian, selanjutnya.
·          menggabungkan menyamakan, yaitu yaitu, yakni, adalah, bahwa, ialah.
·          menggabungkan menyimpulkan, yaitu jadi, karena itu, oleh sebab itu.

Ø  Kata penghubung yang menghubungkan klausa dengan klausa yang kedudukannya bertingkat.
Kata penghubung ini dibedakan lagi menjadi kata penghubung yang menggabungkan:
·         menyatakan sebab, yaitu sebab, karena.
·         menyatakan syarat, yaitu kalau, jikalau, jika, bila, apabila, asal.
·          menyatakan tujuan, yaitu agar, supaya.
·         menyatakan waktu, yaitu ketika, sewaktu, sebelum, sesudah, tatkala.
Contoh : Ketika semua telah terjadi, barulah penyesalan itu datang.
·         menyatakan akibat, yaitu sampai, hingga, sehingga.
·         menyatakan sasaran, yaitu untuk, guna.
·         menyatakan perbandingan, yaitu seperti, laksana, sebagai.
·          menyatakan tempat, yaitu tempat.

Jika dilihat dari kedudukannya konjungsi dibagi dua, yaitu konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif.
Ø  Konjungsi Koordinatif
Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat atau lebih yang kedudukannya sederajat atau setara (Abdul Chaer, 2008: 98). Contoh:
·         dan penanda hubungan penambahan
·         serta penanda hubungan pendampingan
·         atau penanda hubungan pemilihan
·         tetapi penanda hubungan perlawanan
·         melainkan penanda hubungan perlawanan
·         padahal penanda hubungan pertentangan
·         sedangkan penanda hubungan pertentangan

Konjungsi koordinatif agak berbeda dengan konjungsi lain, karena selain menghubungkan klausa juga menghubungkan kata. Seperti contoh berikut:
·         Dia menangis dan istrinya pun tersedu-sedu.
·         Aku yang datang ke rumahmu atau kamu yang datang ke rumahku?
·         Dia terus saja berbicara, tetapi istrinya hanya terdiam saja.
·         Andi pura-pura tidak tahu, padahal tahu banyak.
·          Ibu sedang mencuci baju, sedangkan Ayah membaca Koran.

Ø  Konjungsi Subordinatif
Konjungsi subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat (kalusa) yang kedudukannya tidak sederajat (Abdul Chaer, 2008: 100). Konjungsi subordinatif dibagi menjadi tiga belas kelompok sebagai berikut:
·         Konjungsi suordinatif waktu: sejak, semenjak, sedari, sewaktu, tatkala, ketika, sementara, begitu, seraya, selagi, selama, serta, sambil, demi, setelah, sesudah, sebelum sehabis, selesai, seusai, hingga, sampai.
·         Konjungsi subordinatif syarat: jika, kalau, jikalau, asal(kan), bila, manakala.
·         Konjungsi subordinatif pengandaian: andaikan, seandainya, umpamanya, sekiranya.
·         Konjungsi subordinatif tujuan: agar, supaya, biar.
·         Konjungsi subordinatif konsesif: biar(pun), walau(pun), sekalipun, sungguhpun, kendati(pun).
·         Konjungsi subordinatif pembandingan: seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, laksana, ibarat, daripada, alih-alih.
·         Konjungsi subordinatif sebab: sebab, karena, oleh karena, oleh sebab.
Contoh : Ia telah bekerja keras. Siang malam ia mencari uang untuk sekolah anaknya. Oleh karena itu, tidak ada anaknya yang tidak berhasil.
·         Konjungsi subordinatif hasil: sehingga, sampai(sampai), maka(nya).
Contoh : Sedemikian rupa ia merancang kegiatan itu, sehingga sangat sulit ditemukan kekurangannya.
·         Konjungsi subordinatif alat: dengan, tanpa.
·         Konjungsi subordinatif cara: dengan, tanpa.
·         Konjungsi subordinatif komplementasi: bahwa
·         Konjungsi suboerdinatif atributif: yang
·          Konjungsi subordinatif perbandingan: sama …. dengan, lebih …. dari(pada)


Sabtu, 26 Januari 2013

Nabi Muhammad Adalah Nabi yang Ditunggu Umat Hindu


Nabi Muhammad Adalah Nabi yang Ditunggu Umat Hindu ?


Nabi Muhammad adalah Nabi yang ditunggu umat Hindu? Kalimat itu pasti mengejutkan bagi kebanyakan umat Islam maupun umat Hindu, bahkan mungkin bagi umat di luar kedua agama itu. Betapa tidak, syariat dari dua agama itu sangat jauh berbeda. Mungkinkah Nabi Muhammad adalah Nabi dari kedua agama itu?

Jika dikatakan bahwa Nabi Muhammad adalah juga nabi dari umat Yahudi & umat Kristen, mungkin banyak dari kalangan umat Islam akan setuju, mengingat dalam Al-Qur’an memang terdapat ayat-ayat yang menyatakan kalau kedatangan Nabi Muhammad sebenarnya sudah diberitakan dalam kitab-kitab suci pendahulunya, seperti Taurat & Injil. 

Lima kitab awal dari kitab Perjanjian Lama Kristen adalah apa yang oleh umat Yahudi diakui sebagai Torah/Taurat/Pentatouch, yaitu kitab-kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Sedangkan 4 kitab awal dari kitab Perjanjian Baru Kristen diakui oleh umat Kristen sebagai kitab Injil, yaitu kitab-kitab Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.



Sekalipun umat Islam menyatakan bahwa Taurat & Injil yg diturunkan pada nabi Musa & Nabi Isa adalah bukan yg diakui oleh umat Yahudi & Kristen sekarang, atau setidaknya sudah berubah/diubah dari aslinya, banyak para pakar ilmu Kristologi yang menyatakan kalau dalam Taurat & Injil yg diakui umat Yahudi & Kristen sekarang inipun masih terdapat sisa-sisa ramalan kedatangan Nabi Muhammad (sebenarnya sangat menarik untuk menampilkan argumentasi pembuktiannya, tapi hal itu bukan topik utama dari tulisan ini).

Jika umat Islam mempercayai ramalan kedatangan nabi Muhammad dalam kitab Taurat & Injil, bagaimana dengan kitab suci umat Hindu? Mungkinkah Nabi Muhammad Saw adalah seorang Nabi yang kedatangannya sudah diramalkan oleh kitab suci umat Hindu? Itulah yang akan kita bahas di sini.


Sebenarnya dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang dapat dijadikan acuan bahwa Nabi Muhammad mungkin saja adalah juga seorang Nabi yang ramalan kedatangannya terdapat dalam kitab-kitab suci umat agama lain, diantaranya :


1. Dalam surat Asy-Syu’ara(26) ayat 196 : “Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab orang yang terdahulu”. Jadi dalam kitab-kitab sebelum Al-Qur’an juga terdapat wahyu Tuhan


2. Dalam surat Fatir(35) ayat 24 dinyatakan bahwa tidak ada suatu kaum di masa lalu tanpa seorang pemberi peringatan


3. Dalam surat Al-Ahzab(33) ayat 40 dinyatakan bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan dan merupakan penutup para nabi (utusan terakhir)


4. Dalam surat Al-Anbiya(21) ayat 107 dinyatakan bahwa Nabi Muhammad tidak diutus melainkan untuk seluruh semesta alam.




5. Dalam surat Saba’ (34) ayat 28 dinyatakan bahwa Tuhan mengutus Muhammad untuk seluruh umat manusia, pemberi kabar gembira, dan peringatan akan dosa, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.


Juga dalam hadits Bukhari vol 1. dalam kitab Shalat bab 56 hadits no 429, nabi Muhammad bersabda :


“Semua rasul yg diutus sebelumku hanya berlaku untuk umat/bangsanya saja, tapi aku diutus untuk semua umat manusia”.


Sekarang akan kita lihat dalam kitab suci agama Hindu. Ada banyak kitab dalam agama Hindu yang diakui sebagai kitab suci mereka. Dari semuanya yang dianggap paling suci adalah kitab Veda (Weda). Bila diantara kitab-kitab itu ada yang bertentangan, maka yang harus menjadi rujukan utama adalah Weda yg juga masih terbagi lagi menjadi beberapa kitab. Kitab-kitab lain selain Weda adalah : Upanishad, Smriti, Dharma Sastra, Bhagavat Gita, Puranas, dll.


Ayat-ayat ramalan kedatangan Nabi Muhammad


Disebutkan dalam Bhavisa Purana –> dalam Pratisarag Parv III, Khand 3, Adhyay 3, Shalokas 10 to 27 :


“Aryadarma akan tampil di muka bumi ini. ‘Agama kebenaran’ akan memimpin dunia ini. Saya diutus oleh Isyparmatma. Dan pengikut saya adalah orang yang berada di lingkungan itu, yang kepalanya tidak dikucir, mereka akan memelihara jenggot dan akan mendengarkan wahyu, mereka akan mendengarkan panggilan sholat (adzan), mereka akan memakan apa saja kecuali daging babi, mereka tidak akan disucikan dengan tanaman semak-semak/umbi-umbian tapi mereka akan suci di medan perang. Meraka akan dipanggil “Musalaman” (perantara kedamaian).”


Kalau anda baca tulisan diatas dengan baik, maka anda akan melihat bahwa ciri-ciri dari pengikut agama kebenaran yg disebutkan adalah ciri-ciri yang umum terdapat pada umat Islam.


Dalam Atharvaveda book 20 Hymn 127 Shlokas 1-14 disebutkan tentang Kuntupsuktas yang mengisyaratkan bahwa nabi Muhammad akan terungkap kemudian.

- Mantra 1 mengatakan : ia akan disebut Narasangsa. “Nars” artinya orang, “sangsa” artinya “yang terpuji”. Jadi Narasangsa artinya : orang yang terpuji. Kata “Muhammad” dalam bahasa arab juga berarti : orang yang terpuji. Jadi Narasangsa dalam bahasa Sansekerta adalah identik dg Muhammad dalam bahasa arab. Jadi Narasangsa adalah figur yang sama dengan Nabi Muhammad. Ia akan disebut “Kaurama” yang bisa berarti : pangeran kedamaian, dan bisa berarti : orang yg pindah (hijrah). Nabi Muhammad adalah seorang pangeran kedamaian yang hijrah dari Makkah ke Madinah. Ia akan dilindungi dari musuh yang akan dikalahkannya yang berjumlah 60.090 orang. Jumlah itu adalah sebanyak penduduk Makkah pada masa Muhammad hidup yaitu sekitar 60.000 orang.


- Mantra 2 mengatakan : ia adalah resi yang naik unta. Ini berarti ia bukan seorang bangsawan India, karena dikatakan dalam Mansuriti(11) : 202 mengatakan bahwa Brahma tidak boleh menaiki unta atau keledai. Jadi tokoh ini jelas bukan dari golongan Brahmana (pendeta tinggi Hindu), tapi seorang asing.


- Mantra 3 mengatakan : ia adalah “Mama Rishi” atau resi agung. Ini cocok dengan Nabi agung umat Islam yaitu Nabi Muhammad SAW.


- Mantra 4 mengatakan : ia adalah Washwereda (Rebb) artinya orang yang terpuji. Nabi Muhammad yang juga dipanggil dengan nama Ahmad adalah berarti juga “orang yang terpuji” yang terjemahan bahasa Sansekerta-nya adalah Rebb.


Beberapa ramalan lainnya :


- Dalam Atharvaveda book 20 hymn 21 : 6 dinyatakan bahwa di sana disebutkan dengan istilah : “akkaru” yang artinya : “yang mendapat pujian”. Dia akan mengalahkan 10.000 musuh tanpa pertumpahan darah. Hal ini merujuk pada perang Ahzab yang mana Nabi Muhammad mengalahkan musuh yang berjumlah 10.000 orang tanpa pertumpahan darah.


- Dalam Atharvaveda book 20 hymn 21 : 7 dinyatakan bahwa Abandu akan mengalahkan 20 penguasa. Abandu juga berarti seorang yatim atau seorang yang mendapat pujian. Ini mengarah pada nabi Muhammad yang seorang yatim sejak lahir dan arti kata Muhammad/Ahmad yang berarti yang terpuji, yang akan mengalahkan kepala-suku-suku dari suku-suku di sekitar Makkah yg berjumlah sekitar 20 suku.


- Dalam Rigveda book 1 Hymn 53 : 9 nabi dipanggil dg sebutan “Suslama” yg artinya lagi-lagi adalah : orang yg terpuji yg merupakan arti dari nama Muhammad.


- Dalam Samaveda Agni Mantra 64 dinyatakan bahwa ia tidak disusui oleh ibunya. Hal ini persis dengan Nabi Muhammad yang tidak disusui oleh ibunya tapi oleh seorang wanita bernama Halimah.


- Dalam Samaveda Uttararchika Mantra 1500 dinyatakan bahwa Ahmad akan dianugrahi undang-undang abadi, yang jelas mengacu pada Nabi Muhammad yang akan dianugrahi kitab suci Al-Qur’an. Tapi karena orang India yang berbahasa sansekerta tidak paham kata Ahmad, maka diterjemahkan menjadi “a” dan “mahdi” yaitu “saya sendiri”, jadi diartikan “saya sendiri yang menerima undang-undang abadi”. Padahal seharusnya “Muhammad sendiri yang dianugrahi undang-undang abadi”.


Nabi Muhammad diramalkan dengan nama Ahmad pada banyak bagian dalam kitab-kitab Weda. Juga diramalkan pada tak kurang dari 16 tempat yang berbeda dalam kitab weda dg nama Narasangsa artinya adalah sama dengan arti dari nama Muhammad, yaitu “yang terpuji”.


Kalky Autar


Salah satu ramalan kedatangan nabi Muhammad yg sangat terkenal yang juga telah membuat seorang professor bahasa dari Alahabad University India mengajak kepada umat Hindu untuk segera memeluk agama Islam, adalah terdapatnya sebuah ramalan penting dalam kitab suci Hindu tentang kedatangan yang ditunggu-tunggu dari seorang Kalky Avtar (baca : autar). “av” artinya : turun. “tr” artinya melewati. Jadi arti kata Avtar adalah “diturunkan atau diutus untuk turun”. Kalky Avtar artinya adalah : “utusan terakhir”.


Pundit Vaid Parkash – sang professor (yang menulis buku berjudul “Kalky Avtar”), secara terbuka dan dengan alasan-alasan ilmiah, mengajak para penganut Hindu untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus mengimani risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW, karena menurutnya, sebenarnya Nabi Muhammad adalah sosok yang dinanti-nantikan sebagai sosok pembaharu spiritual dalam agama Hindu.


Disebutkan dalam Nashpropesy, Nabi Muhammad diramalkan dengan nama Kalky Avtar (Autar terakhir) dan Amtim Rishi. Sedangkan dalam kitab Puranas disebutkan tentang Kalky Autar dan kedatangannya. Diantara ayat-ayat yang menyebutkan adalah :


- Dalam Baghavata Purana Khand 12 Adhyay 2 Shloka 18-20 disebutkan dalam rumah Visnuyash akan dilahirkan Kalky Avtar yang diramalkan akan menjadi penguasa dunia, yang terkenal dengan sifat-sifatnya yang baik & menonjol. Dia akan diberi tanda-tanda. Dia akan diberi oleh malaikat sebuah kendaraan yang cepat. Dia akan menaiki kuda putih sambil memegang pedang. Dia akan mengalahkan orang-orang jahat dan dia akan terkenal di dunia.


- Dalam Baghavata Purana Khand 1 Adhyay 3 Shloka 25 disebutkan akan ada juru selamat di rumah Visnuyash


- Dalam Kalki Purana (2) : 4 disebutkan bahwa di rumah Visnuyash pemimpin – kampung Sambala akan lahir Kalki Avtar


- Dalam Kalki Purana (2) : 5 disebutkan bahwa dia akan datang bersama para sahabatnya (4 orang sahabat) mengalahkan orang-orang jahat


- Dalam Kalki Purana (2) : 7 disebutkan bahwa dia akan dijaga oleh malaikat di medan perang


- Dalam Kalki Purana (2) : 11 disebutkan bahwa dalam rumah Visnuyash dan dalam rumah Summati Kalki Autar akan lahir


- Dalam Kalki Purana (2) : 15 disebutkan bahwa dia akan lahir pada tanggal 12 bulan pertama Madhop


- Semua ramalan yg disebut diatas tadi tiada lain merujuk pada Nabi Muhammad SAW. Penjelasannya demikian :


- Dirumah Visnuyash berarti dirumah pengikut Vishnu (pengikut Tuhan) sedangkan ayah dari Nabi Muhammad adalah bernama Abdullah yang artinya adalah pengikut Allah (pengikut Tuhan). Orang Islam menyebut “Allah” sebagai Tuhan, sedang orang Hindu menyebut “Vishnu” sebagai Tuhan. Jadi di rumah Visnuyash adalah di rumah Abdullah.


- Summati dalam bahasa sansekerta artinya adalah orang yang sangat setia. Sedangkan ibunda nabi Muhammad adalah bernama Aminah yang dalam bahasa arab artinya juga orang yg setia.

- Sambala bahasa arabnya adalah tempat yang aman & damai. Nabi Muhammad dilahirkan di Makkah yang terkenal dengan nama “Darul Aman” yaitu tempat yang aman & damai. Akan lahir diantara kepala suku Sambala, artinya bahwa Nabi akan lahir diantara kepala suku di Makkah.


Dilahirkan pada tanggal 12 di bulan pertama Madhop. Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 rabiul awal


Sebagai Amtim Rishi (resi terakhir). Nabi Muhammad adalah juga nabi terakhir dari deretan nabi-nabi yang dikirim Tuhan seperti yang terdapat pada QS. Al- Ahzab : 40.


- Dia akan memperoleh bimbingan di atas gunung dan akan kembali lagi ke arah utara. Nabi Muhammad memperoleh wahyu pertamanya di gua Hira di Jabal Nur. Jabal Nur artinya Gunung Cahaya lalu kembali lagi ke Makkah.


- Dia akan memiliki sifat-sifat yang sangat mulia. Persis seperti nabi Muhammad seperti terdapat pada QS. Al-Qalam : 14 “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur”.


- Kalki Autar akan diberi 8 kemampuan spiritual, yaitu : bijaksana, punya kendali diri, keturunan yg terhormat, punya pengetahuan wahyu, pemberani, perkataannya bertarget kurikulum, sangat dermawan, dan sangat ramah. Semuanya adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh nabi Muhammad


- Dia akan diberi kendaraan yg sangat cepat oleh Shiva. Nabi Muhammad juga diberi bouraq yang sangat cepat oleh Allah yg membawanya ke langit dalam peristiwa Mi’raj.


- Dia akan naik kuda putih dengan tangan kanannya memegang pedang. Nabi Muhammad juga ambil bagian dalam peperangan termasuk dengan menunggang kuda dan bertempur dengan memegang pedang dengan tangan kanannya.


- Dia akan menjadi penyelamat umat manusia. Dalam QS. Faatir(35) ayat 24 dan QS. Saba(34) ayat 28 disebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah pembawa berita gembira & peringatan bagi seluruh umat manusia, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.


Dia akan menjadi pembimbing ke jalan yang benar. Nabi Muhammad hidup pada jaman jahiliyah yang penuh kegelapan dimana ia membawa umatnya ke jalan yang terang benderang.


- Dia akan dibantu oleh 4 sahabat dalam menyebarkan misi. Kita tahu ada 4 orang khalifah sahabat nabi yaitu : Sayyidina Abubakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.


- Dia akan ditolong oleh malaikat di medan pertempuran. Dalam perang Badr Nabi Muhammad dibantu oleh para malaikat Allah seperti tersebut dalam QS. Ali Imran (3) ayat 123 & 125 : “Jika kamu bersabar dan bertaqwa dan mereka menyerang kamu dengan seketika itu juga niscaya Allah menolong kamu dengan 5000 malaikat yang memakai tanda”. Juga QS. Al-Anfal(8) ayat 9 yang berbunyi “…. sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yg datang berturut-turut.”


Subhanallah..


Ternyata sekian banyak ayat tersebut (yang sebenarnya belum semuanya ditampilkan) yang meramalkan akan datangnya seorang nabi yang ditunggu-tunggu oleh umat Hindu, begitu cocok dengan gambaran Nabi Muhammad, umat Islam, dan sejarahnya. Mungkin saja ini juga merupakan pembuktian yang diberikan Allah bahwa Nabi Muhammad memang diutus Allah untuk seluruh umat manusia.


Hal ini juga dapat membuka diskusi yg menarik tentang agama Hindu, kitab suci umat Hindu, dan syariat-nya. Benarkah agama Hindu memang merupakan agama yang diturunkan oleh Allah jauh sebelum Nabi Muhammad lahir? Kalau ya, apakah berarti umat Hindu bisa disebut “muslim”, atau juga bisa disebut “ahlul kitab”? Bagaimana sesungguhnya ajaran agama Hindu itu, dan sesuaikah dengan ajaran Islam? Bagaimana pendapat anda sendiri? (rkh)






Sabtu, 19 Januari 2013

TELAAH NASKAH MELAYU


TUGAS MAKALAH

MATA KULIAH                  : TELAAH NASKAH MELAYU
DOSEN PENGAMPU        : Dra. ELIYA ROZA








OLEH
NETTY RELAWATI
NIM:1079211264


PROGRAM STUDI BUDAYA MELAYU
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS LANCANG KUNING
PEKANBARU
2013


DENGARLAH SUATU SYAIR SIAK

Tersebutlah kisah seorang peri, mudahnya orang yang bahari, hutan belum menjadi negeri kayunya banyak akar dan dari takala zaman ketika itu, Bandar bengkalis tertentu. Indahnya lagi bukan suatu orang melihat berhari-hari itulah negeri asal mulanya zaman tidak lagi serta tidak berasa konon khabarnya sekedar memerintakkannya ramainya bulan alang kepalang selap dan kasih terbilang. Bilang sampai penyebab bilang –bilang, sampai pemukat tiada terbilang kejohor konon ketaklukannya, rasa bukan memerintakkannya mufakat, mencakup dengan sekalian kehendak menjadi akan izin duduk berkampung menghadiri suatu, pergilah orang berjalan didaerah dipersembahkan ke bawah duli kehadirat berjalan itu tiadalah jadi pagi dan petang tidak peduli, kepikir yang kosong sekali masuk menghadap ke bawah dali bagindapun sudah akhir di pengedapan alat kebendaan dengan kelengkapan dipersembahkan suatu dengan tatapan hatikala kesakitan sudah di baca oleh baginda suatu bilah di dalam dada lalu bertitah duli yang shahdamemikul pati dan mana yang ada, setelah kampong dan sekaliannya menjadi mufakat mana di antara sudahlah putus bicaranya menantikan dengan sangat ketiakan.
Maka berangkatlah raja bestari ketika susah sangat mencari serta dengan di iringkan sekalipun negeri ini tidaklah seberapa lama antaranya baginda berangkat dengan bersyukur melalui hutan rimba belukar gundahnya tidak terkira-kira beberapa melalui gunung dan padang berasa ia punya bagai diiring berlompatan dewasa kembang seladang, siapa dirinya baginda memandang.
Sangatlah heran baginda sultan melihat perintisan hutan sekalian berdatangan yang baru lamapun berbagai-bagai rupa penglihatan di jalan pun tiada beberapa hari sampailah pada raja lestari ke tanah bengkalis negeri yang bahari ramai musuh ini negeri serta sampai raja usali ini negeri menjunjung duli berkata keramat sekalian wali satu ampun jangan mengali gali kerjaan sudahlah tentu tiada lagi beriya satu lapan asa sudah bersatu menjadi mufakat pula suatu mufakat dijadikan dalam baginda hendak melingkar johor bicara itu putuslah mufakat sedah setahun bicara itu sedah syarikat laksana ikan dalam pukat, akal pandangan seperti sekata negeri johor hendak diangkat lalu bertitah dali baginda kampungkah orang tua dan muda serta pegawai enam berada, bayangkan perahu mana yang ada sampan dan kakap sudah serta itulah yang dijadikan tetah, lalu di naikan alat senjata khonon khabar berita sedah setiap sekalian menantiakn waktu dengan ketikanya , mencari langkah dengan sangatnya satupun jangan ada bahayanya sekalipun tangkal saudah terberi hatinya tidak lagi terperi memohon tolong tolak dibahari mudah-mudahan rahmat di beri baginda berangkat menarik nafas turun guna yang kajang dipapa dibongkar sedah dayung dikupas tidak lama sempat membakar kipas kena yang kan berdayang sangat lajunya pepatah tersebut yang di tujunya lalu shalawat akan nabinya selamat sempurna sekaliannya berlayar itu dengan dengan ini negeri ramai memandang baginda duduk berjauh pandang di dayungkan oelh tentara mambang. Di perapat tempat siak berhenti sekali kawan bersukalah hati naik kedaerah berganti-ganti menjadi yang berkena di hati, pasang naik sudah berlari menuju kerimunan anak semua ini berbuat bagai ditantang, berlayar itu baru di hulun-hulun haluan menuju selat sembulan. Datang pula kelambang mengalun ketanah besar sampai serat kepada allha do’a di panjatkan, berkata Muhammad penghulu kita jangan member nama kita matahari masuk barayun petang, doa di minta dengan telantang berkata datuk bukan sekantang janganlah ada apa aral melintang, semalam itu berhenti di tanah merah sekalian kawan di sudah kira kepada Allah baginda berserah.
Hari malam sudah gelap bintangpun timbul banyak mengerlib baginda berada tiada lelap banyaklah fikiran dating melaba. Malam itu baginda berada memikirkan lawan dan jodoh mengeluarkan titah tersendu. Sampai waktu dini hari semuanya berbuat tiada terperi baginda tindak banyak peri, berdatanglah baginda sehari itu, tidaklah konon berhiya satu rajanya berjatu khabarnya tentu. Orang johor akalnya satu bunyi merlam seperti Guntur tulang dan sendi sudahlah kendur baginda pun masuk kuala buat meriam sangat mengila seperti betih rontoh tak rela dan gendang sudah pula musuh datang buat surutnya janur tanggal dan menterinya, khabar orang tiada di dengarnya, musuh dan amt juga disebutnya. Setelah datang amanatpun tiba raja pun turun lari ke rimba kesana sini teraba-raba seperti ikan di mabuk tuba, orang mengkabu naik ke daerah orang johor lari melarat, tinggallh harta sekalian berat.tidaklah sampai dengan isyarah yang mana tidaklah bertentu. Berhasil hari dengan anak dan menantu. Remuk-remuk  hatinya satu.
Hibahlah sudah kesedihan peri baginda hendak membuat negeri mencari bicara sehari-hari rapat dengan meteri, ini negeri berdatang sembah, ampun tuanku dali berhambah, patik ini dali berhambah, barang dititahkan dali yang bahari, patik sekalian mengalunkan peri Bandar bengkalis tuanku tinggalkan hanganlah banyak tuanku fikirkan, dari pada pemikat sahaja ditinggalkan, sebag meninggalkan dosanya itu. Gundahan hati tiadalah tentu, dibawah dititahkan membuat negeri, orang menebas sehari-hari kayunya banyak akar dan duri, tidaklah kawan berbaik peri, hawatan besar sudahlah terang rumahpun seberang-seberang. Orang bengkalis penat belaka taluk dan rantau bentan serta juga dengan sekalian adik dan kakak dengan ghamba raja berserah juga tidak menaruh luas sangkasetelah setiba alat negeri, dengan kotanya pula berdiri. Orang berkerja sehari-hari meriam di atur kanan dan kiri. Dating tidak berhinga, ramailah orang berniaga sekalian jenis ada belaka, datangnya tidak berhingga. Ramailah lagi bukan kepalang, berupa sekoci dari malaka, dating tidak lagi berhingga, ramainya bukan lagi buatan sebab adil baginda sultan sampai sekarang juga sebutan, datanglah dahang dari sana sini, serta utusan dari kompeni, menghadap baginda yang arib warnanya masyur sampai ini. Ramainya negeri tidak berkira, hendaknya lagi yang huru hara, serta adil dengan bicara, lorong sampai kanan dan kiri, banyaknya tidak lagi berperi mana sekalian dagang ada di sana berdagang sekalian mulia dan hina. Kerajaan baginda di negeri hutan sangatlah jelas penglihatan, perintahnya adil dengan perbuatan tidak sekali yang kejahatan, tanah datar tiang kerajaan sendirikan daulat yang kemulaian, dengan lima puluh bersama sarat pasar dengan kesakan itulah tidak bersma ada sama sebaya muda-muda warna duli baginda orangnya baik tidak menaruh pada lawan, orang nya menghadap tidak berperi tiada lapang sehari-hari, ramainya lagi tidak berperi, itulah usul baginda berputra, dua orang sama senada salam berdaulat paduka anaknda menaruh cemburu pada muda.
Sangatlah suka paduka ayahnda , sewaktu bukan sembarang-sembarang lapan bunga kembang dikurang, tambah pula beroleh lubu tiada berapa lamanya antara tiadalah mufakat dengan saudara, hampirlah negeri huruhara hendak menangung duka sengsara dengan saudara tiada mufakat masing-masing dengan hakikat sebab kebesaran tiada serikat krang pendapat lapan berkata, sudah di takdir makluk bahari alamat susah ini negeri sekali hulubalang dan menteri kanda tidak hanya lagi berperi mendirikan kubah sebelah belah orang negeri sudah berbilah, sudahlah dengan takdir Allah tidak menjadi benar dan salah.banyaklah orang berhati pilu seorang di hilir seorang di mudik, banyaknya sudah terlalu, sebelah-belah menjadi malu berperang itu sesame negeri, gundahlah sekalian negeri, kabarnya memandang tiada berperi karena berkelahi sesame sendiri, yang ke empat suku tidak bersatu baginda melihat berhati satu remuk rendam tidak bertentu. Hina kata jatuh kebatu demikianlah konon khabarnya khabarnya kurang. Mufakat tak dapat lalu berperang di dalam kampong serang menyerang, ada yang lebih ada yang kurang, bagindapun terlalu murka merah padam warna muka, heran sekali tidak ku sangka akan menjadi mala petaka, datanglah titah dali baginda menyuruh memikul paduka anaknda. Pergilah menteri enam berida apa di perkelahikan dengan saudara didalam negeri tuanku berperang,engkau tidak dapat di larang, pergilah engkau seorang anak dan pun tidak-tidak berkata, duduk beredam iar mata, sudahlah nasib anaknya kita, hendak menanggung duka cita, anaknda menambah bermohon bermohon kembali baginda memandang berhati soli berkata keramat sekali wali mengali-gali. Mendengar titah paduka ratu menjadi pirkiran sepaya tentu, demikianlah konon di sebutkan adalah kepada suatu hari beritah raj bistari memangkul segala hulubalang menteri baik dan buruk boleh dijari, setelah dating sekalian itu mencari mufakat supaya tentu, berang siapa mau bersatu khabarnya kepada ratu ayah sekalian anak saudara, kita hendak keluar segera, janganlah lagi banyak bicara supaya perahu dengan segera. Perahupun siap
Sedia kala, menantikan waktu dengan ketika, sudahlah takdir tuhan yang baka, harum sekali tidak di sangka baginda berangkat berpanjangan, tinggal baginda hendak berangkat menteri sekalian mufakat, sebab khabarnya tidak sedikit dengan saudara menjadi musuh. Di putihkan hati oleh baginda meningalkan seraya paduka ayahanda sebab kebesaran hati derida. Beraja dengan saudara muda, banyaklah sangat dengan ketika , baginda berangkat didalam duka tinggal sekalian adik dan kakak kita ini janganlah kenang juga , berangkatlah raja berstari di iringkan sekali negeri, pasang surut airpun tipas, baginda berangkat mengatur nafas.turun di perahu kajang di papa, lalu shalawat akan nabi memohon rahmad kepada Allah, menghiburkan hati sangatlah duka, telok dan rantau sanka belaka turun sekalian menghadap mereka, membawa persembahan, tingallah anak tinggalah bapa tinggallah tidak terbawa, mudah-mudahan bertemu juga, ibu sekalian adik dan kakak kita ini janganlah di kenang juga, dilihatnya tidak berharga orang bekerja berhari-hari sudahlah kebesaran raja yang bahari telah selesai dari pada itu hilanglah akan menjadi satu, kerendahan hati bukan suatu berijinkan paduka ratu, dari itu dating berbeda, dari pada zaman ayahanda dan bunda belum berasa demikian ada, tambahan piker yang menyuruh, siang dan malam di dalam. Mudah-mudahan beroleh nikmat setelah selesai menobatkan sultan, duduk dalam dengan masing-masing perbuatan adalah kepada suatu hari lalu bertitah raja bestari dating menghadap sekalian serta lalu bertitah duli mahkut jadi mufakat puala suatu mufakat dijari dengan bicara sebab berkenang akan saudara. Lalu bertitah seri kita hendak masuk pura-pura tidaklah tersurat kisah dan peri perkataan baginda membuat negeri zaman. Ini sukar dicari mereka hendak dikira-kira tidak berhenti dengan berperang, kala mana seorang hendak yang lain, titah dali khalifah Allah lebih kurang tiadalah salah, mengerjakan perang sabilah, dengan takdir tuhan yang satu, hendaklah sampai bagai dipikas. Selama baginda menghadap dating dali baginda.
Habislah hari berganti bulan, isi istana isi istana sangatlah selangkah pun boleh baginda berjalan berjalan. Barang di santap tiadalah tertelan beberapa belayan dengan juga. Ucapan baginda begitu juga, rebah bangunan duduk berjalan sehinga sampai sepuluh bulan. Alamat negeri menaruh kedudukan. Didalm kelabu tidak terkena, kesana sini terasa-rasa anaknda memandang sangatlah keruh kehulu kehilir mereka berhimpitlah sekalian mereka. Melihat baginda sangat lah kurang isi istana seperti kelurat melihat duli bertambah berat. Jam-jam dirajam tiada berhenti tiada sekali beroleh santap mentang duli hati tank tentu, beberapa obat yang kenakan, tidaklah dapat piker berkata kepada sekalian tuhan se,ata, duli yang muliah member tatah, dengan berlahan baginda bertitah, janganlah kamu sekalian berbantah, kerjakan sembahyan fardhu dan sunah, hamba sahaya hendaklah membantah jauhi olehmu membuat khianat jangan sekali Allah dan rasul tiadalah rapi mengikuti jumlah baginda ali. Memohonkan rahmat kepada Allah , janganlah kamu berbuat salah pertahankan rakyat dengan hakimalah, baginda bertitah kepada putra banyak banyak budi bicara, hendaklah mufakat bersaudara lebih kurang jangan berkira, sudahlah kepada aku seorang dengan saudara jadi berperang kepada kamu sahaja aku larang, mendengar titah serta perta jangan tuanku bersatu hati mendengar baginda sudah berkata, setelah alamat sudah terkena.
  Ada yang kesini dan ada yang kesana melihat duli yang di patikan, langkah bertahta alun-alun berapa jenis makan-makan jikalau kan baginda ada berkenan  tidak, kepada Allah memohon rahmat berkat duli yang keramat jikalau ada boleh selamat ditantang haluan sangat kelurat barang kehirupan dengan syariat tidak kelu mulutpun berat berangkat datangkan bestari duduk beratur kanan dan kiri kiri dan kanan baginda menulis meninglkan dunia sangatlah berjuta, melainkan ampun tuhan semata, bilangan makhluk raja negeri sebelas bulan enam hari, baginda di pangil kholik albahari, bilangan umat nabi Muhammad akhir kalam Alah- Alah, dengan salasa baginda berangkat kealamat Allah tida lalu kata, bawahlah baginda berangkat, di angkat tanggan dan diatas dada, setelah di angkat duli mahkota kubulah pagi kalau sempat tunku raja bersila-sila turun kemurun khalifah Allah, tuanku telah menjadi mahkota, tiada hendak dapat dikata hilang dari orang-orang mata menantang sekali isi istana tidaklah kasihan duli yang hina tidaklah kasihan sri betara meninggalkan sekali periputra meratapkan duli seri indra putuslah putus bahana suara bunyi ratap menderu kelab didalam bagaikan luruh jam-jam direjam bagaikan ditabur. Kepada siapa mendengarkan putra anak nan belum sampai bicara kehadirat Allah tidak disangka putra anak nan sampai akal, dengan siapa anak ini tinggal, dilihat dali laku petera, ditingalkan oleh seri bitara.
Tidaklah balas duli yang hina, menentang laku isi istana, berangkat dari negeri yang baka, ditinggalkan patik abdi yang hina ditinggalkan patik hamba yang lata, siang dan malam duduk bercinta, balasan patik menantang peri, selaku-laku lupakan diri, menghukum sudah sampai dijari kemala hilangkan seri , hilanglah seri kemala dirinya, hilang member putus asa, kelabu hancur rusak binasa, akan ratap isi istana, tuanku berangkat hendak kemana, selaku akan tidak berguna, sudah di kapan imam dan qodi mohon rahmat sekalian wali, anaknda mangkat berhati soli didalam keranda di masukan sekali, lalu menebaikan mahkota duli, serta bentara panglima sekali setidak selesai pekerjaan baginda , satu di masukan ke dalam keranda, balas melihat adik dan abang hendak berjalan bagaikan tambang pawai di atur oleh bentara enam belas februari setahun . menghadap duli mahkota raja bertitah di atas raja-raja, di dalam kubur di masukan tanah diatas di taburkan telah selesai dari pada itu baginda berangkat berhati satu, surat sampai kedalam istana, hati baginda gundah gulana itulah titah tuhan yang rhina sudah adat tuhan yang azali, baginda duduk berhati soli, memohon ampun lalu kembali, taklah takdir marhum mangkat, akal pendapat sudah singkat lapan ikan dalam pukat, tidaklah boleh kita pikirkan, kehendak Allah di persyukurkan, takdir Allah kita rido’kan, dari pada badan tidak beruntung Allah dan rosul tempat bergantung, meskipun berat bagai di santang duduk berfikir pagi dan petang, memohon rahmat tangan telentang, janganlah ada asal melintang, tersebutlah kisduli baginda, diperbuat oleh mereka sekali diseberang seberang demikian pula.
Disahat oleh putrid yang bahari jangan tuanku berbuat peri, jikau dating suatu peri, patik sekalian member patikpun asal hamba yang tau. Rusuk binasa pun, patikpun asal yang tau, jikalau hatiku geroleh. Biarlah patik dan juga.tamat asal berlayar muhammah lilafillya.